Masyarakat Madani
Oleh:
Indah
solihat
201601052
1B
Keperawatan
STIKes
Mitra Keluarga
1
Pengertian
Masyarakat Madani
Secara umum masyarakat
madani atau civil
society adalah masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani,
dan memaknai kehidupannya. Di kawasan Asia
Tenggara, istilah ` Masyarakat Madani ` dimunculkan untuk pertamakalinya oleh
cendikiawan Malaysia, Anwar Ibrahim. Berbeda dengan prinsip masyarakat sipil di
barat yang berorientasi penuh pada kebebasan individu, menurut mantan perdana
mentri Malaysia itu, Masyarakat madani adalah sebuah sistem sosial yang tumbuh
berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu
dengan kestabilan masyaraka.
2
Pengertian
Masyarakat Madani menurut Para Ahli
·
W.J.S
Poerwadarminto
Menurut W.J.S
Poerwadarminto, kata masyarakat berarti suatu pegaulan hidup manusia,
sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan dan aturan
tertentu.Sedangkan kata madani berasal dari bahasa Arab yaitu madinah, artinya
kota. Jadi secara etimologis, masyarakat madani berarti masyarakat kota.
Meskipun demikian, istilah kota tidak merujuk semata-mata kepada letak
geografis, tetapi justru kepada karakter atau sifat-sifat tertentu yang cocok
untuk penduduk kota. Dari sini masyarakat madani tidak asal masyarakat
perkotaan, tetapi memiliki sifat yang cocok dengan orang kota, yaitu
berperadaban.
·
Rumusan
PBB
Pengertian masyarakat
madani menurut PBB, adalah masyarakat yang demokratis dan menghargai human
dignity atau hak-hak tanggung jawab manusia.
·
Thomas
Paine
Menurut Thomas Paine
bahwa arti masyarakat madani adalah suatu ruang tempat warga dapat
mengembangkan kepribadiannya dan memberi peluang bagi pemuasan kepentingan
secara bebas dan tanpa paksaan.
·
Nucholish
Madjid
Pengertian masyarakat
madani menurut Nurcholis Madjid yang mendefinisikan masyarakat madani sebagai
masyarakat yang merujuk pada masyarakat islam yang perna dibanguna Nabi
Muhammad Saw. di negeri Madinah.
·
Gellner
Menurutnya,
pengertian masyarakat madani adalah sekelompok institusi/lembaga dan asosiasi
yang cukup kuat untuk mencegah tirani politik, baik oleh negara maupun
komunal/komunitas.
·
Muhammad
A.S. Hikam
Pengertian masyarakat
madani menurut Muhammad. A.S. Hikam adalah wilayah-wilayah kehidupan sosial
yang terorganisasi dan bercirikan antara lain kesukarelaan, keswasembadaan dan
keswadayaan, kemandirian tinggi terhadap negara, dan keterikatan dengan norma
serta nilai-nilai hukum yang diikuti warganya.
·
Dawan
Rahardjo
Menurutnya,
pengertian masyarakat madani adalah proses penciptaan peradaban yang mengacu
kepada nilai-nilai kebijakan bersama.
·
M. Hasyim
Pengertian masyarakat
madani menurut M. Hasyim adalah masyarakat yang selalu memelihara perilaku yang
beradab, sopan santun berbudaya tinggi, baik dalam menghadapi sesama manusia
atau alam lainnya.
3
Unsur-Unsur
Masyarakat Madani
Masyarakat
madani tidak muncul dengan sendirinya, ia membutuhkan unsur-unsur sosial yang
menjadi persyaratan terwujudnya tatanan masyarakat madani. Berikut
faktor-faktor yang merupakan suatu kesatuan yang saling mengikat dan menjadi
karakter khas masyarakat madani
a
Wilayah Publik yang
Bebas
Wilayah publik
yang bebas atau free public sphere adalah
ruang publik yang bebas sebagai sarana untuk mengemukakan pendapat warga
masyarakat.di wilayah ruang publik ini semua warga negara memiliki posisi dan
hak yang sama untuk melakukan transaksi sosial dan politik tanpa rasa takut dan
terancam oleh kekuatan-kekuatan diluar civil
society.
b
Demokrasi
Demokrasi adalah
persyaratan mutlak lainnya bagi keberadaan civil
society yang murni (genuine).
Tanpa demokrasi masyarakat sipil tidak mungkin terwujud secara umum, demoktasi
adalah suatu tatanan sosial-politik yang bersumber dan dilakukan oleh, dari,
dan untuk warga negara.
c
Toleransi
Toleransi adalah
sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan pendapat. Lebih dari sikap
menghargai pandangan berbeda orang lain, toleransi mengacu pandangan Nurcholish
Madjid, adalah persoalan ajaran dan kewajiban melaksanakan ajaran itu.
d
Kemajemukan
Kemajemukan atau
pluralisme merupakan persyaratan lain dagi civil
society. Pluralisme tidak hanya dipahami sebatas sikap harus mengakui dan
menenerima kenyataan sosial yang beragam, tapi harus disertai dengan sikap yang
tulus untuk menerima enyataan perbedaan sebagai sesuatu yang alamiah dan rahmat
Tuhan yang bernilai positif bagi kehidupan masyarakat.
e
Keadilan Sosial
Keadilan sosial
adalah adanya keseimbangan dan pembagian yang proposional atas hak dan
kewajiban setiap warga negara yang mencakup seluruh aspek kehidupan seperti
ekonomi, politik, pengetahuan, dan kesempatan. Dengan pengertian lain, keadilan
sosial adalah hilangnya monopoli dan pemusatan salah satu aspek kehidupan yang
dilakukan oleh kelompok atau golongan tertentu.
4
Syarat Masyarakat
Madani
Terdapat tujuh syarat masyarakat madani antara lain
sebagai berikut.
·
Terpenuhinya
kebutuhan dasar individu, keluarga, dan juga kelompok yang berada di dalam
masyarakat.
·
Berkembangnya human
capital (modal manusia) dan social capital (modal sosial) yang kondusif untuk
terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan an terjalinnya
kepercayaan dan relasi sosial antar kelompok.
·
Tidak adanya
diskriminasi dalam setiap bidang pembangunan atau terbukanya akses berbagai
pelayanan sosial
·
Adanya Hak,
kemampuan, dan kesempatan bagi masyarakat dan lembaga-lembaga swadaya untuk
terlibat dalam setiap forum, sehingga isu-isu kepentingan bersama dan kebijakan
publik dapat dikembangkan.
·
Adanya persatuan
antarkelompok di masyarakat serta tumbuhnya sikap saling menghargai perbedaan
antarbudaya dan kepercayaan.
·
Terselenggaranya
sistem pemerintahan yang lembaga-lembaga ekonomi hukum, sosial berjalansecara
produktif dan berkeadilan sosial
·
Adanya jaminan,
kepastian, dan kepercayaan dari setiap jaringan-jaringan kemasyarakatan
sehingga terjalinnya hubungan dan komunikasi antara masyarakat secara teratur,
terbuka dan terperacaya.
5
Pilar
Penegak Masyarakat Madani
Pilar penegak
masyarakat madani adalah institusi-institusi yang menjadi bagian dari sosial
kontrol yang berfungsi mengkritisi kebijakan-kebijakan penguasa yang
diskriminatif serta mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat yang tertindas. Pilar-pilar tersebut
antara lain:
Lembaga Swadaya Masyarakat adalah institusi sosial
yang dibentuk oleh swadaya masyarakat yang tugas utamanya adalah membantu dan
memperjuangkan aspirasi dan kepentingan masyarakat yang tertindas. LSM dalam konteks
masyarakat madani bertugas mengadakan pemberdayaan kepada masyarakat mengenai
hal-hal yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya mengadakan
pelatihan dan sosialisasi program-program pembangunan masyarakat.
Pers adalah institusi yang berfungsi untuk mengkritisi
dan menjadi bagian dari sosial kontrol yang dapat menganalisa serta
mempublikasikan berbagai kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan warga
negaranya. Selain itu, pers juga
diharapkan dapat menyajikan berita secara objektif dan transparan.
Setiap warga negara , baik yang duduk dipemerintahan
atau sebagai rakyat harus tunduk kepada aturan atau hukum. Sehingga dapat
mewujudkan hak dan kebebasan antar warga negara dan antar warga negara dengan
pemerintah melalui cara damai dan sesuai dengan hukum yang berlaku. Supremasi hukum juga
memberikan jaminan dan perlindungan terhadap segala bentuk penindasan individu
dan kelompok yang melanggar norma-norma hukum dan segala bentuk penindasan hak
asasi manusia.
Perguruan tinggi merupakan tempat para aktivis kampus (dosen dan mahasiswa)
yang menjadi bagian kekuatan sosial dan masyarakat madani yang bergerak melalui
jalur moral porce untuk menyalurkan aspirasi masyarakat dan mengkritisi
berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah. Namun, setiap gerakan yang dilakukan itu harus berada
pada jalur yang benar dan memposisikan diri pada real dan realitas yang
betul-betul objektif serta menyuarakan kepentingan masyarakat.[2]Sebagai bagian dari pilar penegak masyarakat madani,
maka Perguruan Tinggi memiliki tugas utama mencari dan menciptakan ide-ide
alternatif dan konstruktif untuk dapat menjawab problematika yang dihadapi oleh
masyarakat.
Partai Politik merupakan wahana bagi warga negara
untuk dapat menyalurkan aspirasi politiknya. Partai politik menjadi sebuah
tempat ekspresi politik warga negara sehingga partai politik menjadi prasyarat
bagi tegaknya masyarakat madani.
6
Masyarakat
Madani di Indonesia ( Paradigma dan Praktik)
Indonesia
memiliki tradisi kuat civil society (masyarakat
madani). Bahkan jauh sebelum negara bangsa berdiri, masyarakat sipil telah
berkembang pesat yang diwakili oleh kiprah beragam organisasi sosial keagamaan
dan pergerakan nasional dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Selain berperan
sebagai organisasi perjuangan penegakan HAM dan perlawanan terhadap kekuasaan
kolonial, organisasi berbasis Islam, seperti Syarikat Islam (SI), Nadhatul
Ulama (NU), dan Muhammadiyah, telah menunjukan kiprahnya sebagai komponen civil society yang penting dalam sejarah
perkembangan masyarakat sipil di Indonesia. Sifat kemandirian dan kesukarelaan
para pengurus dan anggota organisasi tersebut merupakan karakter khas dari
sejarah Masyarakat Madani di Indonesia.
Terdapat
beberapa strategi yang ditawarkan kalangan ahli tenteng bagaimana seharusnya
bangunan Masyarakat Madani bisa terwujud di Indonesia:
1) Pertama, pandangan
intergasi nasional dan politik. Pandangan ini menyatakan bahwa sistem demokrasi
tidak mungkin berlangsung dalam kenyataan hidup sehari-hari dalam masyarakat yang
belum memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang kuat. Bagi pengikut
pandangan ini praktik berdemokrasi ala barat (demokrasi liberal) hanya akan
berakibat konflik antara sesama warga bangsa baik sosial maupun politik.
Demokrasi tanpa kesadaran berbangsa dan bernegara yang kuat dikalangan warga
negara, demokrasi hanya akan dipahami sebagai kebebasan tabpa batas yang
diwujudkan dengan tindakan-tindakan anarkis yang berpotensi pada lahirnya
kekacauan sosial, ekonomi, dan politik.
2) Kedua,
pandangan reformasi sistem politik demokrasi, yakni pandangan yang menekankan
bahwa untuk membangun demokrasi tidak usah terlalu bergantung pada pembangunan
ekonomi. Dalam tataran ini, institusi-institusi politik yang demokratis lebih
diutamakan oleh negara dibandingkan pembangunan ekonomi. Model pengembangan
demokrasi ini pun pada kenyataannya tidaklah menjamin demokrasi berjalan
sebagaimana layaknya. Kegagalan demokrasi diejumlah negara dalam banyak hal
berhubungan dengan tingkat kemiskinan warga neraranya.
3) Ketiga, paradigma
membangun Masyarakat Madani sebagai basis utama pembangunan demikrasi.
Pandangan ini merupakan peredigma alternatif diantara dua pandangan yang
pertama yang dianggap gagal dalam pembangunan demokrasi. Berbeda dengan dua
pandangan yang pertama, pandangan ini lebih menekankan proses pendidikan dan
penyadaran politik warga negara, khususnya kalangan kelas menengah. Hal itu
mengingat bahwa demokrasi membutuhkan topangan kultural, selain dukungan
struktural. Usaha-usaha pendidikan dan penyadaran politik warga negara
merupakan upaya membangun budaya demokrasi dikalangan warga negara. Secara
teoretis, upaya pendidikan dan penyadaran politik kelas menengah dapat dianggap
sebagai bagian dari proses penyadaran ideoligis warga negara, sebagaimana
pernah disinggung oleh Gramsci (1891-1937 M).
Melalui
proses pendidikan politik, diharapkan lahir tatanan masyarakat yang secara
ekonomi dan polirik mandiri. Kemandirian mereka pada akhirnya akan melahirkan
kelompok Masyarakat Madani yang mampu melakukan kontrol terhadap hegemoni
negara.
Berdasarkan
tiga paradigma diatas, pengembangan demokrasi dan masyarakat madani selayaknya
tidak hanya bergantung pada salah satu pandangan tersebut. Sebaliknya, untuk
mewujudkan Masyarakat Madani yang seimbang dengan kekuatan negara dibutuhkan
gabungan strategi dan paradigma. Setidaknya tiga paradigma ini dapat dijadikan
acuan dalam pengembangan demokrasi dimasa transisi sekarang melalui tiga cara:
1) Memperluas
golongan menengah melalui pemberian kesempatan bagi kelas menengah untuk berkembang
menjadi kelompok Masyarakat Madani yang mandiri secara politik dan ekonomi.
Dalam pandangan ini, negara harus menempatkan diri sebagai regulator dan
fasilitator bagi pengembang ekonomi nasional. Tantangan pasar bebas adn
demokrasi global mengharuskan negara mengurangi perannya sebagai aktordominan
dalam proses penambangunan Masyarakat Madani yang tangguh.
2) Mereformasi
sistem politik demokratis melalui pemberdayaan lembaga-lembaga demokrasi yang
ada berjalan sesuai prinsip-prinsip demokrasi. Sikap pemerintah untuk tidak
mencampuri atau memengaruhi putusan hukun yang dilakukan oleh lembaga yudikatif
merupakan salah satu komponen penting darp pembangunan kemandirian lembaga
demokrasi.
3) Penyelenggaraan
pendidikan politik (pendidikan demokrasi) bagi warga negara secara keseluruhan.
Pendidikan politik yang dimaksud adalah pendidikan demokrasi yang dilakukan
secara terus-menerus melalui keterlibatan semua unsur masyarakat melalui
prinsip pendidikan demokratis, yakni pendidikan dari, oleh, dan untuk warga
negara.
Tentang
Masyarakat Madani di Indonesia, menurut Rahardjo, masih merupakan
lembaga-lembaga yang dihasilkan oleh sistem politik represif. Ciri kritisnya
lebih menonjol daripada ciri kontruktifnya. Mereka, menurutnya, lebih banyak
melakukan protes daripada mengajukan solusi, lebuh danyak menuntut daripada
memberikan sumbangan terhadap pemecahan masalah.
Senada
dengan Rahardjo, menurut AS. Hakim, karakter Masyarakat Madani di Indonesia
masih sangat bergantung terhadap negara sehingga selalu berada pada posisi
subordinat, khususnya bagi mereka yang berada pada strata sosial bawah. Karena
itu, menurut Hakim, dalam konteks pengembangan demokrasi kanyataan ini
merupakan tentengan mendesak untuk memperlancar proses demokratisasi.
Mahasiswa
merupakan salah satu komponen strategis bangsa indonesia dalam pengembangan
demokrasi dan Masyarakat Madani. Peran strategis mahasiswa dalam proses
perjuangan reformasi menumbangkan rezim otoriter seharusnya ditindaklanjuti
dengan keterlibatan mahasiswa dalam proses demokratisasi bangsa dan
pengembangan Masyarakat Madani di Indonesia. Sebagai bagian dari kelas
menengah, mahasiswa mempunyai tugas dan tanggung jawab terhadap nasib masa
depan demokrasi dan Masyarakat Madani di Indonesia. Sikap dan tanggung jawab
itu dapad diwujudkan dengan pengembangan sikap-sikap demokratis, toleran, dan
kritis dalam perilaku sehari-hari.
Sikap
demokratis salah satunya dapat diekspresikan melalui peran aktif mahasiswa
dalam pendemokrasian semua lapisan masyarakat melalui cara-cara dialogis,
santun, dan bermartabat. Sikap toleran bisa ditunjukkan, diantaranya, dengan
dikap menghargai perbedaan pandangan, kayakinan, dan tradisi orang lain dengan
kesadaran tinggi bahwa perbedaan adalah rahmat Tuhan yang harus disyukuri,
dipelihara, dan “dirayakan” dalam kehidupan sehari-hari. Adapun sikap kritis
dapat dilakukan dengan mengamati, mengkritisi, dan mengontrol pelaksanaan
kebijakan pemerintah atau lembaga publik terkait, khususnya kebijakan yang
berhubungan langsung dengan hajat orang banyak dan masa depan bangsa. Sejalan
dengan sikap ini, keterlibatan mahasiswa dalam menyuarakan isu-isu strategis
bangsa, seperti mutu pendidikan, pendidikan murah, disiplin nasional,
pemberantasan korupsi, KKN, isu-isu lingkungan hidup yang terkait dengan
perubahan iklim global (climate change),
dan sebaliknya. Sejak demokrasi menghajatkan partisipasi warga negara
menyuarakan aspirasi masyarakat secara santun dan tertib merupakan salah satu
sembangan penting bagi pembangunan demokrasi keberadaban (civilitized democracy) di Indonesia. Demokrasi berkeadaban tidak
mungkin tercapai tanpa praktik-praktik demokrasi yang santun dikalangan warga
negara. Dalam konteks ini, demokrasi tidak lain merupakan sarana untuk
mewujudkan Masyarakat Madani.
Dafrat
Pustaka:
Rozak
Abdula, A. Ubaedillah. 2015. Pancasila,
Demokrasi, HAM, dan Masyarakat Madani. Jakarta: Prenada Media Group.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar