Selasa, 03 Januari 2017


Artikel Tragedi Trisakti


Oleh : Dian Putri Utari
NIM : 201601059






Sejarah
 Tragedi Trisakti 12 Mei 1998

12 Mei 1998 merupakan salah satu dari beberapa rangkaian kerusuhan yang terjadi di Indonesia mengikuti dilantiknya Soeharto. Yang membuat rakyat marah kemungkinan adalah karena Soeharto berseru tentang reformasi politik dan ekonomi, tapi pada kenyataannya Kabinet Pembangunan VII – kabinet buatan Soeharto pada saat itu berisi anggota keluarga dan kroni-kroni Soeharto, termaksud anak didiknya, Bacharuddin Jusuf Habibi sebagai wakil presidennya. Pada tanggal 9 Mei, presiden Soeharto terbang menuju group of 15 summit di Kairo, Mesir. Sebelum berangkat, Soeharto berkata pada masyarakat untuk menghentikan protes mereka dan seperti yang dituliskan di Suara Pembaruan, bahwa ia menyatakan kalau hal ini terus berlanjut, tidak akan ada kemajuan di Indonesia. Soeharto yang awalnya dijadwalkan untuk kembali ke Jakarta pada tanggal 14 Mei, pulang lebih cepat saat kerusuhan di Jakarta mencapai titik kritis, sebuah kejadian yang akan mencatat Sejarah Kelam Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 di Indonesia.
Kericuhan di Jakarta mencapai puncaknya pada tanggal 12 Mei ketika pihak kepolisian dan tentara mulai menembaki mahasiswa-mahasiswa yang melakukan aksi protes damai. Tragedi ini menewaskan 4 orang, Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Belasan orang terluka sebagai hasil dari tragedi ini. Penembakan protesan tanpa sengaja ini menyebabkan kerusuhan yang sebelumnya sudah terjadi tambah marak di seluruh Indonesia, dan pada akhirnya melengserkan Soeharto dari kursi kepemimpinannya. Protes yang menjadi kejadian kunci  Sejarah Kelam Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 dimulai pda pukul 10 siang dan diikuti oleh lebih dari 6000 mahasiswa, staff, dan dosen yang berkumpul di lapangan parkir Universitas Trisakti. Hal pertama yang mereka lakukan adalah menurunkan bendera Indonesia menjadi setengah tiang yang menyimbolkan duka atau kesengsaraan.
Baru ketika hari mulai siang, para protesan  ini bersiap-siap untuk melakukan long march menuju gedung DPR/MPR. Belum jauh dari kampus, mereka dihentikam oleh pihak kepolisiian, tepatnya di depan kantor Walikota Jakarta Barat. Sebagai respon dari penghentian mereka, para protesan ini kemudian menduduki jalan S.Parman dan menghalangi jalur lalu lintas. Setelah bantuan dari pihak militer datang untuk membantu kepolisian, dekan fakultas  hukum , Andi Andojo, berhasil membujuk para demonstran kembali ke kampus. Pada saat itu, pasukan pengamanan yang ada di lokasi adalah Polisi Brimob, KOSTRAD, dan Kodam Jaya. Mereka dipersenjatai dengan perisai huru-hara, gas air mata, Steyr AUG, dan Pindad SS-1.Ketika waktu menunjukan pukul 5 sore, hampur seluruh demonstran telah kembali ke area kampus Trisakti. Sesaat setelahkembali inilah, cemoohan terdengar dari kumpulan polisi dan tentara, diikuti dengan rentetan tembakan yang menyebabkan para demonstran panik dan tercerai berai.


Kekacauan ini memakan dua korbanjiwa, yaitu Elang Mulya Lesmana dan Hendriawan Sie yang saat itu sedang berusaha masuk ke ruangan rektorat di gedung Dr. Syarif Thayeb. Korban jiwa kembali jatuh ketika para mahasiswa yang belum mengungsi berkumpul di sebuah ruangan terbuka. Tentara-tentara yang diposisikan di atap gedung terdekat terus menembak, melukai banyak mahasiswa dan mengambil nyawa dari Heri Hartanto dan Hafidin Royan. Penembakan baru berhenti pada pukul 8 malam, dan pihak kampus bergegas membawa mereka yang terluka menuju rumah sakit terdekat.
Sejarah tragedi Trisakti 12 Mei 1998 ini seperti disebutkan di atas memakan 4 korban jiwa yang semuanya merupakan mahasiswa dari Universitas Trisakti. Keempat mahasiswa ini kemudian oleh Bacharuddin Jusuf Habibi yang naik menggantikan Soeharto sebagai presiden diberi julukan sebagai pahlawan reformasi, karena tewasnya mereka secara tidak langsung mengobarkan api reformasi di hati masyarakat-masyarakat Indonesia yang lainnya. Meski begitu, sebelum presiden Soeharto turun, sempat ada kerusuhan yang jauh lebih besar di Jakarta yang menewaskan 1200 orang tewas yang kebanyakan dikarenakan oleh terjebaknya orang-orang itu di dalam gedung yang dibakar. Pada saat itu, penjarahan terjadi dimana-mana, dan warga Indonesia keturunan Tiongkok menjadi korban penganiayaan dan berbagai tindakan lainnya oleh masyarakat yang menjadi buas.

Pelanggaran HAM pada Tragedi Trisakti

16 tahun lalu lebih telah berlalu, Tragedi Trisakti masih menyisahkan pilu bagi gerakan mahasiswa di tanah air. Peristiwa yang terjadi tepat pada 12 Mei 1998 itu merupakan saksi bagaimana aparat mengesampingkan rasa kemanusiaannya demi tugas komandannya. Tragedi Trisakti merupakan saksi bagaimana pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Pelanggaran Hak Asasi Manusia memang bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Akan tetapi, masih banyak ditemukan sejumlah kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia yaitu Tragedi Trisakti 1998. Momentum bersejarah karena peristiwa yang berujung dengan tumbangnya Orde Baru.
Berawal dari satu kasus, merambat kepada kasus kasus lain yang melanggar HAM. Tragedi Trisakti merupakan awal dari tragedi-tragedi yang terjadi diproses peralihan dari Orde Baru menuju era Reformasi. Kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia memang banyak yang belum terselesaikan atau tuntas. Seperti halnya kasus Tragedi Trisakti 1998 yang sulit untuk dipecahkan. Kasus Trisakti ini sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu, tetapi para pelaku tidak pernah terungkap secara jelas dan detail. Salah satu alasan sulitnya memecahkan kasus ini adalah keterlibatan orang-orang penting(berkuasa) pada saat itu atau bahkan sampai saat ini. Sehingga terdapat banyak hal-hal yang menghambat terpecahnya kasus tersebut.
Sebagai mahasiswa tak dapat dipungkiri peran akan semakin besar karena mahasiswa dituntut untuk mengelola Indonesia yang lebih baik di masa depan. Agar peristiwa ini tak kembali terulang, Hak kebebasan berpendapat setiap warga negara harus ditegakan.

Sumber :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar