Artikel Tragedi Trisakti
Oleh : Dian Putri Utari
NIM : 201601059
Sejarah
Tragedi Trisakti 12 Mei 1998
12 Mei 1998 merupakan salah satu dari beberapa rangkaian kerusuhan yang
terjadi di Indonesia mengikuti dilantiknya Soeharto. Yang membuat rakyat marah
kemungkinan adalah karena Soeharto berseru tentang reformasi politik dan
ekonomi, tapi pada kenyataannya Kabinet Pembangunan VII – kabinet buatan
Soeharto pada saat itu berisi anggota keluarga dan kroni-kroni Soeharto,
termaksud anak didiknya, Bacharuddin Jusuf Habibi sebagai wakil presidennya.
Pada tanggal 9 Mei, presiden Soeharto terbang menuju group of 15 summit di
Kairo, Mesir. Sebelum berangkat, Soeharto berkata pada masyarakat untuk
menghentikan protes mereka dan seperti yang dituliskan di Suara Pembaruan,
bahwa ia menyatakan kalau hal ini terus berlanjut, tidak akan ada kemajuan di
Indonesia. Soeharto yang awalnya dijadwalkan untuk kembali ke Jakarta pada
tanggal 14 Mei, pulang lebih cepat saat kerusuhan di Jakarta mencapai titik
kritis, sebuah kejadian yang akan mencatat Sejarah
Kelam Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 di Indonesia.
Kericuhan di Jakarta mencapai puncaknya pada tanggal 12 Mei ketika pihak
kepolisian dan tentara mulai menembaki mahasiswa-mahasiswa yang melakukan aksi
protes damai. Tragedi ini menewaskan 4 orang, Elang Mulia Lesmana, Heri
Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Belasan orang terluka sebagai
hasil dari tragedi ini. Penembakan protesan tanpa sengaja ini menyebabkan
kerusuhan yang sebelumnya sudah terjadi tambah marak di seluruh Indonesia, dan
pada akhirnya melengserkan Soeharto dari kursi kepemimpinannya. Protes yang
menjadi kejadian kunci Sejarah Kelam Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 dimulai
pda pukul 10 siang dan diikuti oleh lebih dari 6000 mahasiswa, staff, dan dosen
yang berkumpul di lapangan parkir Universitas Trisakti. Hal pertama yang mereka
lakukan adalah menurunkan bendera Indonesia menjadi setengah tiang yang
menyimbolkan duka atau kesengsaraan.
Baru ketika hari mulai siang, para protesan ini bersiap-siap untuk melakukan long march
menuju gedung DPR/MPR. Belum jauh dari kampus, mereka dihentikam oleh pihak
kepolisiian, tepatnya di depan kantor Walikota Jakarta Barat. Sebagai respon
dari penghentian mereka, para protesan ini kemudian menduduki jalan S.Parman
dan menghalangi jalur lalu lintas. Setelah bantuan dari pihak militer datang
untuk membantu kepolisian, dekan fakultas
hukum , Andi Andojo, berhasil membujuk para demonstran kembali ke
kampus. Pada saat itu, pasukan pengamanan yang ada di lokasi adalah Polisi
Brimob, KOSTRAD, dan Kodam Jaya. Mereka dipersenjatai dengan perisai huru-hara,
gas air mata, Steyr AUG, dan Pindad SS-1.Ketika waktu menunjukan pukul 5 sore,
hampur seluruh demonstran telah kembali ke area kampus Trisakti. Sesaat setelahkembali
inilah, cemoohan terdengar dari kumpulan polisi dan tentara, diikuti dengan
rentetan tembakan yang menyebabkan para demonstran panik dan tercerai berai.
Kekacauan ini memakan dua korbanjiwa, yaitu Elang Mulya Lesmana dan
Hendriawan Sie yang saat itu sedang berusaha masuk ke ruangan rektorat di
gedung Dr. Syarif Thayeb. Korban jiwa kembali jatuh ketika para mahasiswa yang
belum mengungsi berkumpul di sebuah ruangan terbuka. Tentara-tentara yang
diposisikan di atap gedung terdekat terus menembak, melukai banyak mahasiswa
dan mengambil nyawa dari Heri Hartanto dan Hafidin Royan. Penembakan baru
berhenti pada pukul 8 malam, dan pihak kampus bergegas membawa mereka yang
terluka menuju rumah sakit terdekat.
Sejarah tragedi Trisakti 12 Mei 1998 ini seperti disebutkan di atas memakan
4 korban jiwa yang semuanya merupakan mahasiswa dari Universitas Trisakti.
Keempat mahasiswa ini kemudian oleh Bacharuddin Jusuf Habibi yang naik
menggantikan Soeharto sebagai presiden diberi julukan sebagai pahlawan
reformasi, karena tewasnya mereka secara tidak langsung mengobarkan api
reformasi di hati masyarakat-masyarakat Indonesia yang lainnya. Meski begitu,
sebelum presiden Soeharto turun, sempat ada kerusuhan yang jauh lebih besar di
Jakarta yang menewaskan 1200 orang tewas yang kebanyakan dikarenakan oleh
terjebaknya orang-orang itu di dalam gedung yang dibakar. Pada saat itu,
penjarahan terjadi dimana-mana, dan warga Indonesia keturunan Tiongkok menjadi
korban penganiayaan dan berbagai tindakan lainnya oleh masyarakat yang menjadi
buas.
Pelanggaran HAM pada Tragedi Trisakti
16 tahun lalu lebih telah
berlalu, Tragedi Trisakti masih menyisahkan pilu bagi gerakan mahasiswa di
tanah air. Peristiwa yang terjadi tepat pada 12 Mei 1998 itu merupakan saksi
bagaimana aparat mengesampingkan rasa kemanusiaannya demi tugas komandannya.
Tragedi Trisakti merupakan saksi bagaimana pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
Pelanggaran Hak Asasi Manusia memang bertentangan dengan hukum yang berlaku di
Indonesia. Akan tetapi, masih banyak ditemukan sejumlah kasus pelanggaran Hak
Asasi Manusia di Indonesia yaitu Tragedi Trisakti 1998. Momentum bersejarah
karena peristiwa yang berujung dengan tumbangnya Orde Baru.
Berawal dari satu kasus,
merambat kepada kasus kasus lain yang melanggar HAM. Tragedi Trisakti merupakan
awal dari tragedi-tragedi yang terjadi diproses peralihan dari Orde Baru menuju
era Reformasi. Kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia memang banyak
yang belum terselesaikan atau tuntas. Seperti halnya kasus Tragedi Trisakti 1998
yang sulit untuk dipecahkan. Kasus Trisakti ini sudah terjadi bertahun-tahun
yang lalu, tetapi para pelaku tidak pernah terungkap secara jelas dan detail. Salah
satu alasan sulitnya memecahkan kasus ini adalah keterlibatan orang-orang
penting(berkuasa) pada saat itu atau bahkan sampai saat ini. Sehingga terdapat
banyak hal-hal yang menghambat terpecahnya kasus tersebut.
Sebagai mahasiswa tak dapat
dipungkiri peran akan semakin besar karena mahasiswa dituntut untuk mengelola
Indonesia yang lebih baik di masa depan. Agar peristiwa ini tak kembali
terulang, Hak kebebasan berpendapat setiap warga negara harus ditegakan.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar